Asa dan Dosanya Dibelakang Orang Tua

Asa dan Dosanya Dibelakang Orang Tua? Apa saja yang dilakukan Asa? Mengapa disebur berdosa? Yuk simak cerita seru Asa.

Aku terbangun dipagi hari yang cerah, lalu bergegas ke kamar mandi untuk menyelesaikan rutinan harian setiap manusia, yaitu mandi. Kemudian orang tuaku akan memanggilku untuk bergabung sarapan bersama mereka. Hari ini tampaknya berbeda, mereka berpakaian rapi. Sepertinya aku akan melakukan hal menyenangkan lagi. “Asa, ayah dan ibu akan pergi untuk urusan bisnis kita di Bali selama beberapa hari kedepan. Ayah akan suruh anak Om Setyo menemani kamu disini. Dia kan pintar bisa temani kamu belajar sambil jagain kamu” ucap Ayah. Tuh kan, beberapa hari kedepan adalah hari bahagia. Orang tua tidak ada dirumah, otomatis aku bebas. “Oh, iya yah gpp, bang Lika kan lagi cuti dari kantornya, kemarin dia Whatsapp ke Asa” jawabku. “Nak belajar yang bener ya selama Ibu dan Ayah keluar, jarang jarang loh bang Lika mau ajarin kamu” ucap Ibu. Jangan salah paham dulu, aku dan bang Lika masih saudara. Abang Lika adalah saudara jauh dari Ibu. Kami lumayan dekat karena dulu aku sering dititipkan ke Ibunya bang Lika waktu masih balita, dia yang sering gendong aku, jarak kami belasan tahun. Dia udah seperti abang kandungku. Gak terasa sarapan kami sudah habis, Ayah dan Ibu berpamitan. Tak lama kemudian sekitar jam 9 pagi, bang Lika datang kerumah. Seperti biasa jika datang bermain kerumah, bang Lika membawa terang bulan buatannya yang favorit banget buat aku.

Baca juga :
Setter dan Getter Pada Pemrograman Berorientasi Objek
Nokia Digandeng NASA Akan Pasang 4G LTE di Bulan

Abang Lika baik banget, dia menuntun aku belajar selama sekolah online seharian. Beneran abang-able deh. Saat aku sudah selesai belajar, aku dan bang Lika melakukan hobi kami yang ditentang oleh orang tua kami, yaitu bermain panahan. Bang Lika sih yang membuat aku suka main panahan. Kita pergi ke halaman belakang, Bang Lika menyusun hal – hal yang kami perlukan. Busur panah milik Bang Lika lebih berat daripada Busur panah milikku. Kesenangan kami adalah jika anak panah yang diluncurkan mengenai titik merah papan. Apalagi jika jarak papan dengan busur sangat jauh.

Karena sudah terlatih secara diam – diam sejak kecil, kami pun hebat dalam bermain panahan. Bang Lila tak jarang bertanding denganku, hadiah dari pertandingan nanti jika aku kalah adalah sebuah ciuman di pipi Bang Lika atau ketika bang Lika kalah adalah seloyang terang Bulan spesial. Bang Lika beneran tau cara membahagiakan adiknya ini. Kebanyakan aku kalah, bang Lika dengan muka yang sangat bikin aku kesal tersenyum dan meminta imbalannya. Tapi jika aku menang, aku akan meminta seloyang terang bulan dengan toping yang gila. Ya, aku memang berencana memeras uangnya hahaha. Pernah sesekali dia menghabiskan seratus ribu lebih untuk membuatkanku seloyang terang bulan karena toping yang kuminta sangat banyak. Alhasil terang bulannya sangat bervarian. Anehnya abang tidak pernah marah, malah tertawa jika melihat aku bertingkah untuk membuatnya kesal. Selama beberapa hari kami belajar dan bermain panah sampai orang tuaku pulang dan Abang pun kembali kerumahnya. Aku sebenarnha merasa berdosa pada orang tuaku karena aku telah berjanji pada mereka untuk berhenti bermain panah. Aku kadang memukul diriku sendiri karena merasa berdosa. Bagaimana tidak aku merasa bedosa? Orang tuaku menjanjikanku sekolah ke luar negeri dan berjanji akan membatasi jam belajarku sebelumnya yang sangat gila – gilaan asalkan tidak bermain panah lagi dan mereka menepatinya, sewaktu aku SMP, aku bersekolah di Belgia.

* Asa dan Dosanya Dibelakang Orang Tua adalah cerita fiktif

Baca juga : Preview Smartphone Gaming ASUS ROG Phone 3 – The Ultimate Winner

Sekian, terimakasih, dan semoga menghibur:)